Skip to main content

Cerita malam iniSetelah gelap1 mnt

Lampu Baca

A freckled, pale-skinned woman with long copper-red curly hair sits up in bed in a thin cream camisole, eyes half-closed, holding an open paperback lit by a small clip-on book light; a bare-chested man with dark hair and a short dark beard sits close behind her, his mouth at her ear, his arm around her and his hand over hers on the book, against a dark upholstered headboard.
Keep going.

Pukul satu dini hari, satu-satunya cahaya di kamar itu berasal dari jepitan plastik kecil yang terpasang di sudut atas sebuah buku saku, melemparkan seberkas cahaya sempit ke atas lututnya yang terlipat dan tak ada yang lain. Pria itu tidur menyamping, membelakangi cahaya itu, atau begitu yang ia kira.

"Bacakan untukku," katanya dalam gelap, tanpa berbalik. Suaranya punya ketenangan datar milik orang yang baru setengah sadar dari tidur, yang dengan caranya sendiri adalah bentuk kejujuran — kalau ia sedang terjaga penuh, ia tak akan memintanya.

Perempuan itu menemukan kembali tempatnya lebih lewat raba daripada lihat, lalu melanjutkan membaca pelan, cara orang membaca ketika rumah sedang tidur dan suaranya sendiri sudah berjanji untuk tetap tenang. Pria itu tak bergerak. Ia bisa merasakan pria itu mendengarkan dengan seluruh punggungnya.

Bab itu sudah berputar-putar selama empat puluh halaman — sebuah dapur, pertengkaran yang macet, dua orang yang terus-menerus hampir bersentuhan lalu selalu menemukan alasan untuk tidak melanjutkannya — dan sekarang, di halaman ini, putarannya akhirnya berhenti.

Suaranya tersekat tepat di tempat kalimat itu tersekat, pada kata "akhirnya," dan ia duduk di situ, buku terbuka, mulut terkatup, sadar pria itu kini sudah terjaga penuh di belakangnya, sadar pria itu tahu persis di mana ia berhenti.

Pria itu meraih lewat bahunya dan mematikan lampu pada engselnya, kerucut cahaya putih kecil itu lenyap dalam satu gerakan, lalu berkata, cukup dekat hingga helai rambutnya bergerak, "Terus saja."

Perempuan itu bilang ia sudah tak bisa melihat halamannya lagi. "Aku tahu," katanya, yang bukan jawaban, dan sekaligus adalah jawaban.

Maka ia tetap melanjutkan, mengarang sendiri sisa paragraf itu dekat telinga pria itu, dengan suara yang makin pelan, kalimat-kalimat yang bukan lagi milik penulisnya, sementara tangannya yang bebas menemukan tangan pria itu yang sudah ada di sana.

Pria itu tak membetulkannya. Ia tak bertanya apa yang sebenarnya terjadi selanjutnya di buku itu. Ia hanya mengikuti apa yang perempuan itu katakan, setengah baris di belakangnya, seperti seorang pria yang mengenali sebuah ruangan lewat rabaan, dan kegelapan mengurus sisanya.

Entah di bagian mana dari bab yang tak pernah lagi ia kembali, buku saku itu tergelincir dari tepi kasur dan jatuh terbuka di lantai, menelungkup, dan tak satu pun dari mereka memungutnya, dan sampai pagi tak satu pun dari mereka bisa mengatakan halaman mana yang telah hilang.