Skip to main content

KatalogApi yang pelan1 mnt

Hitungan Tiga

A woman with straight dark hair in a charcoal silk slip, one strap slid off her shoulder, her hand flat on the bare chest of a man in an unbuttoned white shirt, their foreheads nearly touching and eyes closed, his other hand raised clasping hers, a rolled-up rug and a lit lamp in the dim room behind them.
One song, she'd said. Just one.

Perempuan itu telah menggulung karpet sampai ke plin lantai dan mendorong meja kopi ke lorong, dan ruangan itu punya raut telanjang dan menunggu seperti panggung sebelum tirai naik — seperti gladi bersih untuk sesuatu yang tak satu pun dari mereka ucapkan keras-keras.

"Satu lagu saja," katanya di telepon, alasan itu setipis kertas hingga dinding di baliknya terlihat. "Aku payah. Kau tahu aku payah." Ia tahu. Ia sudah bilang ya sebelum kalimat itu selesai.

Perempuan itu menurunkan jarum piringan hitam ke lagu lama, birama tiga per empat, dibuat justru untuk ini, lalu mengulurkan kedua tangan seperti seorang pengajar — cekatan, profesional, tak ada apa pun selain pelajaran itu.

"Di sini," katanya, mengambil tangan kanannya dan meletakkannya rendah, di pinggangnya. "Bukan di situ. Di sini." Tangan itu dibiarkannya di tempat ia meletakkannya, dan tinggal satu ketukan lebih lama bahkan setelah ia melepaskan pergelangan tangannya.

"Satu-dua-tiga," ia menghitung, dekat ke telinganya, cukup pelan agar hanya untuknya, dan lelaki itu menginjak kakinya di hitungan dua lalu minta maaf, dan perempuan itu menyuruhnya menghitung, bukan berpikir, dan ia mencoba lagi.

Tangan lelaki itu di punggungnya berhenti mengoreksi keseimbangan entah di putaran keempat dan mulai begitu saja bersandar di sana, hangat menembus katun tipis blusnya. Ia menyadarinya. Ia tak berkata apa-apa, sebab mengatakannya akan mengakhirinya.

"Kau yang memimpin," katanya, terkejut, pada putaran yang tak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.

"Begitukah," katanya — bukan benar-benar pertanyaan, tangannya masih persis di tempat ia hanyut ke sana, meski jarak lima belas sentimeter yang seharusnya dijaga hitungan itu di antara mereka sudah lama menghilang entah ke mana.

Perempuan itu berhenti menghitung di sekitar satu. Lelaki itu berhenti menunggu hitungan dua. Piringan hitam terus berputar di kamar yang temaram, berbunyi untuk tak seorang pun secara khusus, sebab tak satu pun dari mereka masih perlu ketukan itu untuk tahu ke mana kaki harus melangkah.