Skip to main content

Cerita malam iniBara lama1 mnt

Sentuhan Dekat

A worn pair of hairdressing scissors and a black comb resting on a folded white towel on a wooden kitchen stool, a few dark hair clippings on the pale floorboards beneath, warm low evening light.
The good scissors, still in the drawer.

Di telepon ia hanya bilang "ada acara", tidak lebih — bukan acara apa, bukan pula kenapa rambutnya harus dipotong dengan cara tertentu, hanya bahwa tak ada tangan lain yang ia percaya untuk versi dirinya besok. Tiga tahun bersama, setahun berpisah, dan ini masih alasan pertama ia menelepon.

Perempuan itu menyimpan gunting bagusnya di laci yang tak pernah benar-benar ia kosongkan. Ia meyakinkan diri itu demi gunting itu, bukan demi lelaki itu.

Lelaki itu masuk tanpa mengetuk dua kali, seperti dulu, dan langsung menuju bangku dapur tanpa perlu diberi tahu yang mana — yang kakinya goyang, yang memang selalu jadi miliknya, karena menghadap menjauh dari jendela, dan ia tak pernah suka diperhatikan saat memutuskan untuk duduk diam.

Perempuan itu sendiri yang menyampirkan handuk ke bahunya, sekali gerakan, alih-alih menyerahkannya, dan merasakan lelaki itu terdiam di bawah tangannya persis seperti dulu, seolah bangku itu punya aturan yang masih ia ingat.

"Kamu selalu terlalu lambat di bagian tengkuk," katanya, lebih kepada ruangan itu daripada kepadanya.

"Seseorang harus melakukannya dengan benar." Perempuan itu mengangkat sisir, menemukan titik di tengkuknya tempat rambut masih tumbuh ke arah keras kepala yang sama seperti tiga tahun lalu, dan ada sesuatu di tangannya yang ingat lebih dulu sebelum sisa dirinya menyusul.

Lelaki itu tak bertanya apa itu besok. Perempuan itu tak bertanya kenapa ia menunggu sampai cahaya hampir habis untuk memperbaikinya. Beberapa pertanyaan lebih baik dibiarkan terlipat di samping surat-surat lain.

Perempuan itu mengerjakan senti terakhir perlahan, lebih pelan dari yang diperlukan, memiringkan kepala lelaki itu dengan dua jari di bawah dagunya, dengan cara yang tak akan pernah dilakukan seorang penata rambut dan selalu dilakukan seorang kekasih lama, sampai tak ada lagi alasan profesional untuk melanjutkan, dan tak ada alasan sama sekali untuk berhenti.

Sisir itu diam di tengkuknya. Tak satu pun dari mereka bergerak untuk mengakhirinya.